avatarSteven Effendi Halim

Free AI web copilot to create summaries, insights and extended knowledge, download it at here

4079

Abstract

di Australia, harganya kurang lebih sama. Bedanya kalau kamu membeli di Indonesia, kamu menggunakan gaji standard Indonesia, sementara kalau beli di Australia kamu menggunakan gaji standard Australia.</p><p id="16f9">UMR di Indonesia dikhususkan apabila memang hidup kamu 100% menggunakan barang lokal buatan Indonesia mulai dari pakaian, makanan, elektronik sampai hiburan. Sementara UMR di Australia bisa digunakan untuk membeli produk dari mancanegara.</p><h1 id="cc9a">2. Bebas Polusi</h1><p id="ecc2">Beberapa negara maju sudah mulai menerapkan konsep ramah lingkungan. Aku cukup bingung ketika baru pertama kali sampai di Australia, setiap rumah memiliki minimal 2 tempat sampah yang berbeda yang dibedakan oleh warna. Warna merah adalah sampah rumah tangga, sementara warna kuning adalah sampah daur ulang (cthnya : plastik, kardus, kertas).</p><p id="ed1b">Beberapa tempat seperti restoran bahkan punya tempat sampah ekstra warna hijau yaitu khusus untuk sampah organik.</p><p id="7581">Karena kebiasaan tersebut membuat udara di Australia jauh lebih bersih karena pengelolaan sampah dan emisi karbon yang sedikit. Langit yang masih biru dan udara yang sejuk seakan-akan setiap hari sedang tinggal di puncak gunung.</p><p id="5594">Hal ini sangat mustahil dilakukan di Indonesia. Boro-boro mau bikin kategori sampah, buang sampah pada tempatnya aja masih susah.</p><h1 id="756c">3. Infrastruktur yang baik</h1><p id="51b8">Negara-negara maju punya sistem infrastruktur dan public transport yang baik demi mengurai kemacetan.</p><p id="37b9">Selain itu, mereka juga bisa meyakinkan warganya untuk menggunakan transportasi publik meskipun mungkin mereka punya kendaraan sendiri.</p><p id="0e16">Di Australia sendiri, saking mudahnya, kamu bisa naik transportasi publik sendiri meskipun kamu penyandang cacat dan harus menggunakan kursi roda karena semua aksesnya dibuat sedemikian rupa sehingga penyandang disabilitas pun bisa menggunakannya.</p><p id="5d86">Hal ini agak sulit diterapkan di Indonesia karena rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas transportasi publik.</p><p id="7123">Dan aku yakin 100% mustahil kalau kamu penyandang disabilitas dan mau naik busway menggunakan kursi roda.</p><h1 id="e19b">4. Penegakan hukum yang tegas.</h1><p id="5405">Percuma saja kamu bikin standar UMR yang tinggi apabila banyak yang tidak mematuhinya dan tidak ada hukumannya.</p><p id="1cb6">Di negara seperti Australia, kita bisa melaporkan tindakan yang kita anggap melanggar hukum dengan jelas. Sebagai contohnya apabila ternyata tempat kerja kita tidak mematuhi aturan upah minimum yang ditetapkan, atau aturan mengenai cuti, dll. Kita bisa membuat laporan ke lembaga yang dinamakan Fairworks dan mereka akan langsung bertindak dan menginvestigasi, bila perlu menelpon langsung tempat kerja kita.</p><p id="1adf">Tentu saja kita bisa membuat laporan secara anonymous jadi tidak ada yang tahu siapa yang melaporkan hal tersebut. Dan percayalah, nama Fairworks adalah nama yang paling ditakuti para pebisnis karena apabila ketahuan kita melanggar, dendanya bisa sampai miliaran rupiah dan bisa bikin bangkrut.</p><p id="1a02">Itu hanya sebagian kecil dari contoh penegakan hukum yang jelas. Apabila hukum ditegakan dengan tegas, orang akan jadi takut melakukan tindakan melanggar hukum dan lingkungan akan menjadi lebih aman.</p><h1 id="0dfb">5. Tidak terlalu menjunjung tinggi satu Agama tertentu</h1><p id="c257">Tingkat toleransi di negara maju jauh lebih tinggi dibanding negara yang katanya menjunjung tinggi agama. Tidak ada yang namanya komunitas-komunitas agama tertentu yang suka main sweeping dan terkadang main hakim sendiri. Dan juga tidak ada demo-demo anarkis yang mengatas namakan agama.</p><p id="c32a">Negara seperti Australia yang mayoritas penduduknya adalah migran dari berbagai negara, suku dan agama tertentu sangat menghormati perbedaan.</p><p id="9e36">Oleh karena itu dibuatlah sebuah Undang-Undang yang bernama Anti Discrimination Act yang menyatakan setiap orang berhak mendapatkan peluang dan kesempatan yang sama terlepas dari suku, ras

Options

dan agama mereka.</p><p id="1a04">Dan karena penegakan hukum yang tegas, tidak ada orang yang berani bermain-main menyerang seseorang karena perbedaan tersebut. Hal ini membuat kita belajar lebih tentang menerima perbedaan dan melihat perbedaan sebagai suatu hal yang positif.</p><p id="54ac">Aku jadi ingat pernah nonton suatu cuplikan di Youtube mengenai kenapa ada negara kaya dan ada negara miskin.</p><p id="f5b5">Salah satu faktor yang dibahas adalah negara-negara miskin itu karena faktor penduduknya yang percaya bahwa nasib mereka di dunia sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa dan tidak bisa dirubah, oleh karena itu lebih baik mereka memfokuskan diri untuk meningkatkan pahala di surga.</p><p id="040b">Sementara di negara-negara kaya, penduduknya percaya bahwa nasib seseorang bisa diubah melalui kerja keras dan usaha mereka sendiri. Mereka percaya bahwa kehidupan mereka ditentukan oleh diri mereka sendiri.</p><p id="1fc4">Untungnya di video tersebut tidak menyebut nama Indonesia sebagai salah satu contohnya.</p><h1 id="c4c9">6. Suasana politik yang kondusif</h1><p id="4b85">Bebas dari korupsi mungkin menjadi salah satu faktor mengapa banyak orang rela pindah ke negara-negara maju.</p><p id="317a">Tidak bisa dipungkiri, Indonesia masih menjadi salah satu negara yang tingkat korupsinya tinggi. Hal inilah yang membuat banyak orang tidak percaya kepada pemerintah dan mencoba mengakali pajak. Karena mereka tidak rela uang pajak mereka justru digunakan untuk memperkaya segelintir orang.</p><p id="a11a">Sebagai seseorang yang pernah bekerja sebagai sales dengan customer di sektor pemerintahan, aku sudah cukup paham banget mengenai hal ini.</p><p id="0fca">Proyek-proyek pemerintahan yang nilainya fantastis namun kadang tidak tepat guna sudah umum aku lihat selama 8 tahun aku berkarir.</p><p id="e119">Aku ingat banget suatu waktu aku sedang ngobrol dengan salah satu direktur di kantorku, dia berbicara kalau hanya proyek pemerintah lah yang bisa membantu suatu perusahaan grow revenuenya karena mereka punya budget untuk membeli.</p><p id="39fe">Sebagai seorang sales yang hidupnya selalu dikejar target, proyek pemerintahlah yang bisa dianggap membantu kita achieve target yang ditentukan perusahaan. Dan berbagai hal dilakukan demi bisa memenangkan proyek tersebut.</p><p id="f2a8">“We basically don’t have a choice.” kata direkturku waktu itu. Sebagai seorang warga negara kita tahu proyek ini sebenarnya gak semahal ini dan gak terlalu berguna, tapi sebagai seorang karyawan, kita butuh proyek ini agar achieve target yang ditetapkan perusahaan biar gak dipecat.</p><h1 id="61f6">Hargai janji dan komitmen yang kamu berikan</h1><p id="73b1">Masih banyak lagi faktor-faktor lain mengapa orang-orang rela pindah ke luar negeri seperti kesempatan berkarir, lingkungan yang ramah buat anak, faktor dukungan untuk kesehatan dan tenaga medis kelas satu, dsb.</p><p id="b4ba">Itulah mungkin mengapa orang-orang yang menerima LPDP itu berubah pikiran dan mencoba untuk tidak kembali ke Indonesia.</p><p id="2b7f">Pada akhirnya kalau kamu memang penerima beasiswa LPDP dan berkesempatan belajar di negara maju. Aku harap kamu juga belajar dan mempunyai mentalitas negara tersebut.</p><p id="b160">Kamu sudah menandatangani kontrak untuk kembali ke Indonesia, maka hargailah kontrak tersebut, jangan mentalitas Indonesianya masih dibawa padahal sudah sekolah jauh-jauh ke luar negeri dan dibiayai negara.</p><p id="5434">Dan kalau memang sejak awal kamu tidak berencana kembali ke Indonesia, maka jangan ikut program tersebut karena persyaratan LPDP sudah ditentukan sejak awal yang meminta kamu untuk kembali ke Indonesia.</p><p id="a9ce">Be smart, buktikan hasil dari sekolahmu di dalam negeri terlebih dahulu. Kamu tidak tahu, bisa saja karena kamu sukses menerapkan hasil dari sekolahmu di Indonesia tiba-tiba kamu dapat tawaran berkarir di luar negeri.</p><p id="bf27">P.S. : Aku membahas tentang bagaimana caranya bekerja dan sekolah di Australia di Instagramku <b><i>strangerparadise_au </i></b>dengan cara legal tanpa bantuan LPDP</p></article></body>

6 Alasan Mengapa Banyak Warga Indonesia Mau Pindah ke Luar Negeri

Berdasarkan pengalaman pribadi tinggal lebih dari 4 tahun di Australia

Photo by JESHOOTS.COM on Unsplash

Baru-baru ini aku membaca sebuah berita tentang seseorang yang ogah pulang ke Indonesia setelah menerima beasiswa LPDP dari pemerintah.

Alhasil orang tersebut dihujat massa dan masuk berita yang meminta dia mengembalikan dana yang sudah diberikan pemerintah untuk sekolahnya.

Ceritanya cukup sederhana dan menurutku sedikit cerdas sih sebenernya, jadi setelah orang ini menyelesaikan studinya di Inggris, dia sebenarnya diwajibkan untuk pulang ke Indonesia karena itu salah satu persyaratan yang harus ditanda tangai penerima LPDP.

Tapi dia tidak pulang dengan alasan istrinya sekarang yang studi jadi dia harus menemani istrinya di sana.

Saya langsung membandingkan cerita tersebut dengan kehidupan saya sendiri di Australia. Dan bagi saya yang sudah tinggal cukup lama di Australia, alasan itu adalah lagu lama.

Karena di Australia sendiri banyak sekali warga Indonesia yang melakukan hal seperti itu meskipun mereka bukan penerima beasiswa LPDP. Jadi mereka mengusahakan berbagai cara agar bisa tinggal lebih lama di Australia, salah satunya adalah ya seperti itu. Yang sekolah gantian.

Kamu akan kaget kalau tau sejauh mana orang-orang rela melakukan sesuatu agar tidak pulang ke Indonesia agar bisa menetap lebih lama di negara maju seperti Australia. Dan rasanya kondisi yang sama juga terjadi di negara-negara maju lainnya, Inggris salah satunya.

Dan sebagai salah satu dari sekian banyak orang Indonesia yang tinggal merantau ke luar negeri, aku juga berkesempatan masuk ke dunia diaspora dan bertemu dengan orang-orang Indonesia lainnya yang sedang tinggal di luar negeri.

Alasan utama kebanyakan orang mau pindah ke luar Indonesia tentu semata-mata demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Entah itu dari sisi finansial seperti penghasilan atau semata-mata kualitas hidup seperti work-life balance.

Meskipun setiap orang mungkin punya alasan yang berbeda-beda, setidaknya berikut ini adalah pendapatku mengapa orang rela-rela memulai lagi dari nol di negeri orang lain.

1. Penghasilan/Gaji yang tinggi

Di beberapa negara maju, tenaga kerja manusia sangat dihargai. Di Australia sendiri UMRnya adalah sekitar IDR 220,000 per jam. Yang artinya kalau mereka bekerja normal 40 jam seminggu, dalam sebulan mereka akan mendapatkan gaji sebesar IDR 35,200,000. Itu UMR lho ya, kalau kamu punya high skill seperti IT, Accounting, Dokter, Teknisi, gajinya akan jauh lebih tinggi dari itu.

Lalu orang-orang akan mencari pembelaan dengan bilang “Tapi kan gaji tinggi, biaya hidup juga besar.”

Untuk beberapa kategori seperti tempat tinggal dan transport memang lebih besar, tapi untuk biaya lain seperti makan dan pakaian, harganya kurang lebih sama dengan di Jakarta.

Terlebih lagi dengan gaji yang besarnya sesuai standard negara maju, artinya kamu punya kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidupmu misalnya dengan beli online course, beli aset yang berkualitas seperti laptop dan handphone agar bisa kamu gunakan sebagai side income, mengakses makanan sehat, bergabung dengan gym, liburan ke luar negeri untuk menambah wawasan dan pengalaman, dsb.

Hal tersebut hanya bisa dilakukan apabila memang penghasilan kamu sudah sesuai standard penghasilan mayoritas negara maju lainnya.

Karena sekarang dunia sudah saling terhubung. Kamu mau beli baju di Uniqlo di Indonesia dengan Uniqlo di Australia, harganya kurang lebih sama. Bedanya kalau kamu membeli di Indonesia, kamu menggunakan gaji standard Indonesia, sementara kalau beli di Australia kamu menggunakan gaji standard Australia.

UMR di Indonesia dikhususkan apabila memang hidup kamu 100% menggunakan barang lokal buatan Indonesia mulai dari pakaian, makanan, elektronik sampai hiburan. Sementara UMR di Australia bisa digunakan untuk membeli produk dari mancanegara.

2. Bebas Polusi

Beberapa negara maju sudah mulai menerapkan konsep ramah lingkungan. Aku cukup bingung ketika baru pertama kali sampai di Australia, setiap rumah memiliki minimal 2 tempat sampah yang berbeda yang dibedakan oleh warna. Warna merah adalah sampah rumah tangga, sementara warna kuning adalah sampah daur ulang (cthnya : plastik, kardus, kertas).

Beberapa tempat seperti restoran bahkan punya tempat sampah ekstra warna hijau yaitu khusus untuk sampah organik.

Karena kebiasaan tersebut membuat udara di Australia jauh lebih bersih karena pengelolaan sampah dan emisi karbon yang sedikit. Langit yang masih biru dan udara yang sejuk seakan-akan setiap hari sedang tinggal di puncak gunung.

Hal ini sangat mustahil dilakukan di Indonesia. Boro-boro mau bikin kategori sampah, buang sampah pada tempatnya aja masih susah.

3. Infrastruktur yang baik

Negara-negara maju punya sistem infrastruktur dan public transport yang baik demi mengurai kemacetan.

Selain itu, mereka juga bisa meyakinkan warganya untuk menggunakan transportasi publik meskipun mungkin mereka punya kendaraan sendiri.

Di Australia sendiri, saking mudahnya, kamu bisa naik transportasi publik sendiri meskipun kamu penyandang cacat dan harus menggunakan kursi roda karena semua aksesnya dibuat sedemikian rupa sehingga penyandang disabilitas pun bisa menggunakannya.

Hal ini agak sulit diterapkan di Indonesia karena rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas transportasi publik.

Dan aku yakin 100% mustahil kalau kamu penyandang disabilitas dan mau naik busway menggunakan kursi roda.

4. Penegakan hukum yang tegas.

Percuma saja kamu bikin standar UMR yang tinggi apabila banyak yang tidak mematuhinya dan tidak ada hukumannya.

Di negara seperti Australia, kita bisa melaporkan tindakan yang kita anggap melanggar hukum dengan jelas. Sebagai contohnya apabila ternyata tempat kerja kita tidak mematuhi aturan upah minimum yang ditetapkan, atau aturan mengenai cuti, dll. Kita bisa membuat laporan ke lembaga yang dinamakan Fairworks dan mereka akan langsung bertindak dan menginvestigasi, bila perlu menelpon langsung tempat kerja kita.

Tentu saja kita bisa membuat laporan secara anonymous jadi tidak ada yang tahu siapa yang melaporkan hal tersebut. Dan percayalah, nama Fairworks adalah nama yang paling ditakuti para pebisnis karena apabila ketahuan kita melanggar, dendanya bisa sampai miliaran rupiah dan bisa bikin bangkrut.

Itu hanya sebagian kecil dari contoh penegakan hukum yang jelas. Apabila hukum ditegakan dengan tegas, orang akan jadi takut melakukan tindakan melanggar hukum dan lingkungan akan menjadi lebih aman.

5. Tidak terlalu menjunjung tinggi satu Agama tertentu

Tingkat toleransi di negara maju jauh lebih tinggi dibanding negara yang katanya menjunjung tinggi agama. Tidak ada yang namanya komunitas-komunitas agama tertentu yang suka main sweeping dan terkadang main hakim sendiri. Dan juga tidak ada demo-demo anarkis yang mengatas namakan agama.

Negara seperti Australia yang mayoritas penduduknya adalah migran dari berbagai negara, suku dan agama tertentu sangat menghormati perbedaan.

Oleh karena itu dibuatlah sebuah Undang-Undang yang bernama Anti Discrimination Act yang menyatakan setiap orang berhak mendapatkan peluang dan kesempatan yang sama terlepas dari suku, ras dan agama mereka.

Dan karena penegakan hukum yang tegas, tidak ada orang yang berani bermain-main menyerang seseorang karena perbedaan tersebut. Hal ini membuat kita belajar lebih tentang menerima perbedaan dan melihat perbedaan sebagai suatu hal yang positif.

Aku jadi ingat pernah nonton suatu cuplikan di Youtube mengenai kenapa ada negara kaya dan ada negara miskin.

Salah satu faktor yang dibahas adalah negara-negara miskin itu karena faktor penduduknya yang percaya bahwa nasib mereka di dunia sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa dan tidak bisa dirubah, oleh karena itu lebih baik mereka memfokuskan diri untuk meningkatkan pahala di surga.

Sementara di negara-negara kaya, penduduknya percaya bahwa nasib seseorang bisa diubah melalui kerja keras dan usaha mereka sendiri. Mereka percaya bahwa kehidupan mereka ditentukan oleh diri mereka sendiri.

Untungnya di video tersebut tidak menyebut nama Indonesia sebagai salah satu contohnya.

6. Suasana politik yang kondusif

Bebas dari korupsi mungkin menjadi salah satu faktor mengapa banyak orang rela pindah ke negara-negara maju.

Tidak bisa dipungkiri, Indonesia masih menjadi salah satu negara yang tingkat korupsinya tinggi. Hal inilah yang membuat banyak orang tidak percaya kepada pemerintah dan mencoba mengakali pajak. Karena mereka tidak rela uang pajak mereka justru digunakan untuk memperkaya segelintir orang.

Sebagai seseorang yang pernah bekerja sebagai sales dengan customer di sektor pemerintahan, aku sudah cukup paham banget mengenai hal ini.

Proyek-proyek pemerintahan yang nilainya fantastis namun kadang tidak tepat guna sudah umum aku lihat selama 8 tahun aku berkarir.

Aku ingat banget suatu waktu aku sedang ngobrol dengan salah satu direktur di kantorku, dia berbicara kalau hanya proyek pemerintah lah yang bisa membantu suatu perusahaan grow revenuenya karena mereka punya budget untuk membeli.

Sebagai seorang sales yang hidupnya selalu dikejar target, proyek pemerintahlah yang bisa dianggap membantu kita achieve target yang ditentukan perusahaan. Dan berbagai hal dilakukan demi bisa memenangkan proyek tersebut.

“We basically don’t have a choice.” kata direkturku waktu itu. Sebagai seorang warga negara kita tahu proyek ini sebenarnya gak semahal ini dan gak terlalu berguna, tapi sebagai seorang karyawan, kita butuh proyek ini agar achieve target yang ditetapkan perusahaan biar gak dipecat.

Hargai janji dan komitmen yang kamu berikan

Masih banyak lagi faktor-faktor lain mengapa orang-orang rela pindah ke luar negeri seperti kesempatan berkarir, lingkungan yang ramah buat anak, faktor dukungan untuk kesehatan dan tenaga medis kelas satu, dsb.

Itulah mungkin mengapa orang-orang yang menerima LPDP itu berubah pikiran dan mencoba untuk tidak kembali ke Indonesia.

Pada akhirnya kalau kamu memang penerima beasiswa LPDP dan berkesempatan belajar di negara maju. Aku harap kamu juga belajar dan mempunyai mentalitas negara tersebut.

Kamu sudah menandatangani kontrak untuk kembali ke Indonesia, maka hargailah kontrak tersebut, jangan mentalitas Indonesianya masih dibawa padahal sudah sekolah jauh-jauh ke luar negeri dan dibiayai negara.

Dan kalau memang sejak awal kamu tidak berencana kembali ke Indonesia, maka jangan ikut program tersebut karena persyaratan LPDP sudah ditentukan sejak awal yang meminta kamu untuk kembali ke Indonesia.

Be smart, buktikan hasil dari sekolahmu di dalam negeri terlebih dahulu. Kamu tidak tahu, bisa saja karena kamu sukses menerapkan hasil dari sekolahmu di Indonesia tiba-tiba kamu dapat tawaran berkarir di luar negeri.

P.S. : Aku membahas tentang bagaimana caranya bekerja dan sekolah di Australia di Instagramku strangerparadise_au dengan cara legal tanpa bantuan LPDP

Sekolah
Bahasa Indonesia
Beasiswa Luar Negeri
Pendidikan
Komunitas Blogger Medium
Recommended from ReadMedium